Novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie hadir sebagai bacaan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman emosi dan kritik sosial yang tajam. Melalui sudut pandang seorang anak perempuan bernama Salva, pembaca diajak memasuki dunia yang penuh luka, ketidakadilan, dan kesepian, namun disampaikan dengan bahasa yang polos dan imajinatif.
Salva adalah anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh secara emosional. Ayahnya digambarkan sebagai sosok yang kasar dan penuh amarah, sementara ibunya terjebak dalam ketakutan dan kepasrahan. Dunia orang dewasa yang seharusnya memberi perlindungan justru menjadi sumber trauma. Di sinilah kekuatan novel ini terasa, Ziggy tidak menceritakan kekerasan secara vulgar, melainkan membiarkannya muncul lewat pemahaman terbatas seorang anak.
Bahasa dalam Di Tanah Lada cenderung unik dan puitis. Cara Salva menamai perasaan, orang, dan keadaan menunjukkan betapa anak-anak sering kali memahami dunia dengan logika mereka sendiri. Imajinasi menjadi pelarian sekaligus alat bertahan hidup. Hal ini membuat pembaca tidak hanya membaca cerita, tetapi juga merasakan kegelisahan dan kepolosan yang bercampur menjadi satu.
Tokoh Pepper, anak laki-laki yang ditemui Salva dalam pelariannya, menjadi simbol persahabatan dan harapan. Hubungan mereka menunjukkan bahwa di tengah kekerasan dan ketidakpedulian, masih ada ruang kecil untuk empati dan kebersamaan. Namun, novel ini tidak menawarkan akhir yang manis secara berlebihan. Justru, realisme pahit tetap dijaga, seolah mengingatkan pembaca bahwa tidak semua luka bisa sembuh dengan cepat.
Secara keseluruhan, Di Tanah Lada bukan hanya novel tentang anak-anak, tetapi tentang kegagalan orang dewasa dalam menciptakan ruang aman. Novel ini mengajak pembaca merenung, sekaligus merasa tidak nyaman, karena apa yang diceritakan sangat dekat dengan realitas sosial di sekitar kita.
Novel ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin melihat dunia dari sudut pandang yang jujur dan rapuh, serta memahami bahwa suara anak-anak sering kali paling lirih, tetapi paling penting untuk didengarkan.
Penulis: Adelia Wahyuni

Komentar
Posting Komentar